
Bogor — Suasana haru, khidmat, dan penuh doa mewarnai pelaksanaan Wisuda Qur’an Akbar ke-9 elTAHFIDH Indonesia yang digelar di Lembah Jatisari, Cileungsi, Kabupaten Bogor, pada hari Sabtu 23 Mei 2026. Ratusan peserta, wali santri, dan tamu undangan memadati lokasi kegiatan untuk menyaksikan momen istimewa lahirnya generasi Qur’ani yang berkarakter.
Acara dihadiri sejumlah Tokoh, di antaranya Abi Dr. H. Jhon Edy Rahman, SH., M.kn. selaku Founder & CEO elTAHFIDH Indonesia, Camat Cileungsi Drs. Adi Hendrayana, AP, M.Si., Kepala Desa Jatisari H. Atu Ansori, S.E., dan Sekretaris MUI Kec. Cileungsi KH. Arofi Andalas, M.Pd., serta jajaran direktur lembaga, juga para orang tua dan tamu undangan.
Dalam rangkaian acara tersebut, Pengasuh elTAHFIDH Indonesia; KH. Dr. Muslih Abdul Karim, MA., menyampaikan tausyiah yang sarat pesan spiritual, harapan, serta motivasi bagi para wisudawan dan orang tua. Di hadapan para santri dan wali santri, ia menegaskan bahwa para penghafal Al-Qur’an bukan hanya membawa kemuliaan bagi dirinya sendiri, tetapi juga akan menjadi jalan kemuliaan bagi orang tua dan keluarganya.
“Anak-anak kita ini nanti akan membawa orang tuanya, membawa keluarganya, membawa kaumnya. Mereka menjadi orang-orang beriman dan bermanfaat bagi orang lain,” ungkap beliau.
Dalam tausyiahnya, beliau mengangkat kandungan Surah Ar-Ra’d ayat 29 tentang Tuba lahum, yang dijelaskan sebagai pohon besar di surga yang menaungi seluruh kenikmatan surga. Menurutnya, para penghafal Al-Qur’an dapat menjadi sebab orang tua memperoleh kemuliaan dan naungan tersebut.
Beliau juga menggambarkan bahwa kebahagiaan para orang tua pada hari wisuda bukan hanya sebatas keberhasilan duniawi, tetapi juga menjadi investasi akhirat yang kelak akan mengangkat derajat keluarga di hadapan Allah SWT.
“Ini yang kita banggakan hari ini. Dengan izin Allah anak-anak kita akan membawa kita mendapatkan naungan pohon Tuba,” ujarnya disambut kekhusyukan para hadirin.
Tak hanya menggambarkan kemuliaan surga, Kyai Muslih juga mengajak seluruh peserta merenungi kisah sahabat Rasulullah SAW, Rabi’ah Al-Aslami. Dalam kisah tersebut, Rabi’ah diberikan kesempatan meminta apa saja kepada Rasulullah, namun ia tidak meminta harta, jabatan, atau kemewahan dunia.
Sebaliknya, Rabi’ah menyampaikan permintaan yang sederhana namun mendalam: “As’aluka murofaqotaka fil jannah” — “Aku ingin mendampingimu di surga, ya Rasulullah.”
Kisah itu kemudian menjadi titik utama pesan tausyiah. Rasulullah SAW menjawab permintaan tersebut dengan nasihat: “A’inni ‘ala nafsika bikatsrati sujud” atau “Bantulah aku dengan memperbanyak sujud.”
Kyai Muslih menekankan bahwa jalan menuju kemuliaan dan kedekatan dengan Rasulullah bukanlah harta maupun kedudukan, melainkan memperbanyak ibadah, sujud, shalat sunnah, tilawah Al-Qur’an, dan amal saleh.
Ia juga mengajak para santri dan wali santri untuk memperbanyak amalan seperti shalat dhuha, tahajud, qobliyah, ba’diyah, sedekah, serta menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Menjelang akhir tausyiah, Kyai Muslih memanjatkan doa agar elTAHFIDH Indonesia terus berkembang dan melahirkan semakin banyak generasi penghafal Al-Qur’an.
“Mudah-mudahan elTAHFIDH tambah barakah dan cita-cita menghadirkan 10.000 hafidz-hafidzah segera diwujudkan Allah SWT,” tuturnya.
Wisuda Qur’an Akbar ke-9 ini tidak sekadar menjadi seremoni kelulusan, tetapi juga menjadi ruang penguatan visi besar membentuk generasi Qur’ani yang tidak hanya kuat hafalannya, namun juga berkarakter, berakhlak, dan siap menjadi cahaya bagi keluarga serta masyarakat.





