Kuliah Kepemimpinan PPAI: PENTINGNYA TARBIYAH DALAM PEMBENTUKAN DAN PENGAMBANGAN ORGANISASI PERSPEKTIF KI HAJAR DEWANTARA DAN RELEVASINYA BAGI PPAI

Pentingnya Tarbiyah dalam Pembentukan dan Pengembangan Organisasi: Perspektif Ki Hajar Dewantara dan Relevansinyabagi PPAI

Cileungsi — Dalam upaya memperkuat nilai kepemimpinan, loyalitas, serta keistiqomahan kader dalam berorganisasi, PPAI kembali menyelenggarakan Kuliah Kepemimpinan yang diikuti oleh seluruh kader dari berbagai wilayah di Indonesia. Kegiatan ini menjadi bagian dari program pembinaan berkelanjutan yang bertujuan mencetak kader berkarakter, visioner, dan berakhlak Qur’ani.

Kegiatan Kuliah Kepemimpinan PPAI tersebut diselenggarakan secara virtual pada Jumat, 30 Januari 2026, mulai pukul 20.00 WIB hingga selesai. Pelaksanaan kuliah dilakukan secara daring guna memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh kader elTAHFIDH Indonesia untuk berpartisipasi tanpa terkendala jarak dan wilayah.

Kuliah Kepemimpinan PPAI kali ini dihadiri oleh Abi DR. H. Jhon Edy Rahman, SH., MKn. selaku Ketua Umum PPAI, sebagai pemateri utama. Beliau dikenal sebagai tokoh yang konsisten dalam pembinaan kepemimpinan berbasis nilai Islam dan pengalaman organisasi. Dalam pemaparannya, Abi Jhon Edy Rahman menekankan pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan keteladanan, keikhlasan, serta komitmen jangka panjang dalam berorganisasi.

Dalam dinamika organisasi modern, khususnya organisasi berbasis pendidikan dan keislaman, tantangan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan manajemen struktural, tetapi juga pembentukan karakter dan nilai-nilai dasar anggotanya. Salah satu konsep penting yang kerap menjadi fondasi pembentukan kualitas sumber daya manusia dalam organisasi adalah tarbiyah. Tarbiyah tidak sekadar dimaknai sebagai proses pendidikan formal, melainkan sebagai usaha sistematis untuk menumbuhkan kesadaran, karakter, dan tanggung jawab individu dalam suatu komunitas.

Konsep tarbiyah memiliki relevansi yang kuat dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan nasional Indonesia, yang menekankan pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia. Dalam konteks organisasi seperti PPAI, tarbiyah menjadi instrumen strategis dalam membentuk kader yang berintegritas, visioner, dan berlandaskan nilai moral yang kuat.


Makna Tarbiyah dalam Konteks Organisasi

Secara etimologis, tarbiyah berasal dari bahasa Arab yang bermakna menumbuhkan, memelihara, dan mengembangkan. Dalam konteks organisasi, tarbiyah dapat dipahami sebagai proses pembinaan berkelanjutan yang bertujuan mencetak individu yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.

Pentingnya tarbiyah dalam pembentukan dan pengembangan organisasi terletak pada kemampuannya membangun kesamaan visi, loyalitas, serta etos kerja kolektif. Organisasi yang dibangun tanpa landasan tarbiyah cenderung rapuh secara nilai dan mudah tergerus oleh kepentingan pragmatis. Oleh karena itu, tarbiyah menjadi jantung pembentukan karakter organisasi yang berkelanjutan.


Perspektif Ki Hajar Dewantara tentang Pendidikan dan Pembinaan Manusia

Ki Hajar Dewantara memandang pendidikan sebagai proses pembudayaan yang bertujuan membentuk manusia merdeka lahir dan batin. Prinsip terkenalnya, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani, menunjukkan bahwa pendidikan harus berlangsung secara holistik—melalui keteladanan, motivasi, dan dorongan moral.

Jika dikaitkan dengan konsep tarbiyah, pemikiran Ki Hajar Dewantara sejalan dengan nilai-nilai pembinaan organisasi. Tarbiyah tidak bersifat indoktrinatif, melainkan partisipatif dan membebaskan. Setiap anggota organisasi didorong untuk berkembang sesuai potensi, namun tetap berada dalam koridor nilai bersama.

Filosofi ini sangat relevan dalam pengembangan organisasi modern, khususnya organisasi pendidikan Islam, yang menuntut keseimbangan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.


Peran Tarbiyah dalam Pembentukan Karakter Organisasi

Tarbiyah berperan penting dalam membentuk budaya organisasi yang sehat. Melalui proses tarbiyah yang sistematis, nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan kepemimpinan dapat ditanamkan secara konsisten. Hal ini sejalan dengan gagasan Ki Hajar Dewantara yang menempatkan pendidikan sebagai alat transformasi sosial.

Organisasi yang berbasis tarbiyah memiliki keunggulan dalam hal ketahanan nilai. Anggota tidak hanya bekerja karena sistem atau aturan, tetapi karena kesadaran dan komitmen moral. Inilah yang menjadikan tarbiyah sebagai fondasi penting dalam pengembangan organisasi jangka panjang.


Relevansi Tarbiyah bagi PPAI

Sebagai organisasi yang bergerak dalam ranah pendidikan dan pengembangan potensi umat, PPAI memiliki kebutuhan besar akan sistem tarbiyah yang kuat. Tantangan globalisasi, digitalisasi, dan pergeseran nilai menuntut PPAI untuk tidak hanya fokus pada aspek struktural, tetapi juga pembinaan internal.

Relevansi pemikiran Ki Hajar Dewantara bagi PPAI terlihat pada pentingnya pendekatan pendidikan yang humanis dan kontekstual. Tarbiyah dalam PPAI tidak hanya bertujuan membentuk kader yang kompeten, tetapi juga berkarakter, berakhlak mulia, dan memiliki kepedulian sosial.

Dengan mengintegrasikan nilai tarbiyah dan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, PPAI dapat memperkuat identitas organisasinya sekaligus menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar nilai.


Implikasi Strategis bagi Pengembangan Organisasi

Pentingnya tarbiyah dalam pembentukan dan pengembangan organisasi menuntut adanya perencanaan yang matang. Tarbiyah harus menjadi bagian dari sistem organisasi, bukan sekadar program tambahan. Proses kaderisasi, kepemimpinan, dan pengambilan keputusan perlu berlandaskan nilai-nilai tarbiyah.

Dalam perspektif Ki Hajar Dewantara, organisasi ideal adalah organisasi yang mampu mendidik anggotanya menjadi manusia yang merdeka, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi masyarakat. Hal ini menjadi pijakan strategis bagi PPAI dalam merancang arah pengembangan organisasi ke depan.


Penutup

Tarbiyah merupakan elemen krusial dalam membentuk dan mengembangkan organisasi yang berkarakter dan berkelanjutan. Dalam perspektif Ki Hajar Dewantara, tarbiyah sejalan dengan tujuan pendidikan yang memanusiakan manusia dan membangun peradaban. Relevansinya bagi PPAI sangat nyata, terutama dalam membentuk kader yang memiliki integritas moral, kecerdasan intelektual, dan kepedulian sosial.

Dengan menjadikan tarbiyah sebagai fondasi utama, organisasi tidak hanya akan tumbuh secara struktural, tetapi juga kokoh secara nilai. Inilah esensi pentingnya tarbiyah dalam pembentukan dan pengembangan organisasi di tengah tantangan zaman yang terus berubah.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top