
Bogor – Membangun generasi penghafal Al-Quran tidak hanya berbicara tentang transfer ilmu, melainkan tentang transfer energi kebaikan dan ketulusan hati.
Menyadari pentingnya hal tersebut, elTAHFIDH Indonesia kembali menggelar rangkaian Training Management tingkat lanjut melalui program “Serial Guru Kehidupan untuk Semua” pada Sabtu, 30 Mei 2026.
Pada pertemuan kali ini, pelatihan akan mengangkat sebuah sub-tema yang sangat menyentuh dan kontekstual bagi dunia pendidikan Islam: “Komunikasi Jiwa: Mendengar, Memahami, dan Menyembuhkan.”
Hadir sebagai narasumber utama adalah sosok guru dan mentor spiritual, Founder & CEO elTAHFIDH Indonesia; Abi Dr. H. Jhon Edy Rahman, SH., M.Kn. Pelatihan eksklusif ini dirancang khusus untuk seluruh elemen penggerak di elTAHFIDH Indonesia, mulai dari jajaran manajemen, tim operasional, para guru, hingga para musyrif dan musyrifah (pembina asrama) yang berinteraksi langsung dengan para santri setiap harinya.
Lebih dari Sekadar Kata: Seni Berkomunikasi dengan Hati
Dalam pengantar materinya, Abi Dr. H. Jhon Edy Rahman menekankan bahwa tantangan mendidik generasi masa kini memerlukan pendekatan yang melampaui instruksi lisan. Guru dan pembina asrama dituntut untuk memiliki kemampuan “Komunikasi Jiwa“.
Tiga pilar utama yang akan dikupas tuntas dalam pelatihan ini meliputi:
Mendengar (Active Listening): Hadir secara utuh untuk mendengarkan keluh kesah dan dinamika emosi para santri maupun sesama tim, bukan sekadar menunggu giliran untuk berbicara.
Memahami (Empathy & Understanding): Menempatkan diri pada sudut pandang orang lain demi melahirkan rasa saling percaya (trust) yang kokoh.
Menyembuhkan (Healing Presence): Menjadikan kehadiran seorang pendidik atau pemimpin sebagai obat, penenang, dan pemberi solusi atas setiap beban mental maupun spiritual yang dihadapi santri.
Sinergi Manajemen dan Pendidik untuk Visi Besar elTAHFIDH
Pihak manajemen elTAHFIDH Indonesia menyatakan bahwa training ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan lembaga untuk menjaga kualitas spiritual dan emosional para SDM-nya.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap lini di elTAHFIDH Indonesia—baik itu manajemen yang merumuskan kebijakan, guru yang mengajar di kelas, hingga musyrif-musyrifah yang menemani santri di asrama—memiliki frekuensi hati yang sama. Ketika jiwa kita selesai dengan dirinya sendiri, kita bisa menyembuhkan dan menguatkan jiwa orang lain,” ujar Ust. Hadi Mulia, S.Pd., SE., Alhafidh, selaku PJ. Pusat Pelatihan elTAHFIDH Indonesia.
Melalui Serial Guru Kehidupan ini, diharapkan tercipta lingkungan belajar yang tidak hanya unggul secara akademis dan hafalan Al-Quran, tetapi juga menjadi tempat yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang bagi seluruh ekosistem elTAHFIDH Indonesia.
Sabtu esok bukan sekadar hari pelatihan biasa, melainkan sebuah momentum refleksi untuk menyalakan kembali api pengabdian, merajut komunikasi yang lebih humanis, dan melangkah bersama menuju visi mulia elTAHFIDH Indonesia.

